h1

Selamat datang di Eastjava Ecotourism

27 Mei 2010


Pelanduk topi-hitam

Berwisata merupakan suatu kegiatan yang sangat digemari oleh seluruh umat manusia, jenis dari

berwisata itupun berbeda – beda, dari sesuatu yang sangat rileks dan tenang sampai pada kegiatan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan memacu adrenalin. Semua itu hanya untuk mendapatkan penyegaran setelah semua kesibukan kita dalam bekerja sehari hari.

Eastjava Ecotourism terinspirasi oleh keindahan alam liar Jawa Timur, baik dilihat dari tepi pantai, di atas jeram sungai, diatas puncak gunung dan aneka warna serta ragam satwa liar, maka keindahan alam Indonesia kami hadirkan khusus untuk anda dengan berbagai pilihan menarik untuk liburan anda, dari yang just for fun sampai menegangkan atau liburan yang akan memberikan anda pengetahuan tentang alam atau lingkungan sekitar, dari dataran tinggi pegunungan sampai keindahan dalam laut.

Paket wisata yang kami buat terfokus pada wisata alam yang educative dan fun, namun untuk pengamatan burung terbagi dalam beberapa tipe. Semua jenis paket wisata fleksible berdasarkan waktu, tempat dan kualitas, semua itu tergantung dari permintaan pelanggan terhormat. Kami tidak terpaku pada jadwal yang dibuat, apabila pelanggan masih menyukai dan betah pada satu titik point hot spot maka dengan senang hati kami akan melayani sesuai dengan keinginan anda.

Layanan kami meliputi:

Kegiatan luar ruang (outdoor training) :
Experiential Learning, Outing dan Corporate atau Family Gathering dll

Acara Petualangan (event petualangan):

Rafting, Tracking, bird watching

Acara Rekreasi Pendidikan (event recreation education):

Mengenal budaya masyarakat tengger dan melihat matahari terbit di Gunung Bromo, Kawah Ijen, Pulau Sempu.

Penyewaan Armada Transportasi (rent car or bus):
Station Wagon ( Kijang Inova, APV,Avanza, Grand Max), Pregio, Isuzu ELF, Mini Bus dan Makro Bus Pariwisata.

Kami berharap liburan anda berkesan sehingga anda bisa menikmati hari – hari anda dengan penuh semangat.

h1

Sekilas dan sejarah Gunung BROMO

9 Desember 2010

Bromo Eruption

Letusan Minor si Bromo Kecil

Marufinsudibyo| 29 November 2010 | 15:32

Sohib saya paklik Dirmawan sang geolog senior sekaligus dukunnya pertanggulan sungai-sungai di Jawa Tengah suatu ketika pernah berkelakar: jebulnya ndhak hanya panu atau pathek, lha wong gunung njebluk saja ya bisa nular.

Kita yang awam mungkin akan tercengang kala menyaksikan betapa setelah letusan Merapi, beberapa gunung berapi juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas seperti Bromo, Anak Krakatau dan Batur. Namun jika melihat rilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari tahun ke tahun sebenarnya tak perlu kaget. Sebagai negara luas yang memiliki 129 gunung berapi aktif dan tergolong lebih dari sepertiga populasi gunung berapi aktif di Bumi, setiap tahun secara rata-rata 15 – 20 gunung berapi Indonesia memiliki aktivitas di atas normal (entah berstatus waspada, siaga maupun awas). Maka jika tahun 2010 ini Gunung Merapi seolah-olah ‘menularkan’ diri pada gunung-gunung berapi lainnya, realitasnya tidaklah sedemikian karena semuanya masih berada dalam pola regional yang wajar. Kita boleh curiga telah terjadi sesuatu yang berpengaruh secara luas ketika jumlah gunung berapi yang aktivitasnya di atas normal melebihi angka 30 atau 40 gunung per tahun.

PVMBG menaikkan status Gunung Bromo secara beruntun pada Selasa 23 November 2010 lalu sehingga dalam sehari saja sudah loncat status dua tingkat, dari semula Waspada menjadi Siaga dan kemudian naik ke status tertinggi menjadi Awas. Mengapa demikian ? Alasannya cukup kuat, yakni peningkatan kegempaan dimana gempa vulkanik dalam dan dangkal menanjak pesat, demikian pula dengan gempa tremor. Peningkatan gempa tremor hingga polanya menjadi beruntun -mirip gempa tremor Gunung Merapi di awal November 2010- menggelisahkan mengingat inilah pertanda amat jelas bahwa magma di dalam perut bumi sedang berjejalan naik ke atas untuk mencari lubang pengeluarannya. Apalagi dalam sejarahnya Gunung Bromo suka serba mendadak: mendadak meletus dan mendadak pula berhenti (seperti kejadian letusan 2004).

BROMO from Penanjakan

Penghancuran Berulang

Gunung Bromo adalah sebuah kerucut vulkanis kecil setinggi 133 meter di atas keanggunan Segara Wedi (Lautan Pasir), dengan elevasi puncak 2.392 m dpl yang tumbuh di kawasan Pegunungan Tengger. Namun gunung kecil ini mewakili wajah aktivitas vulkanis setempat yang dalam sejarahnya telah merubah wajah Tengger secara dramatis dalam kurun 1,4 juta tahun terakhir. Ya, Pegunungan Tengger sejatinya adalah gunung purba berukuran raksasa dan telah hancur berulang kali oleh aktivitasnya. Aktivitas Gunung Bromo purba telah berlangsung sejak 1,4 +/- 0,2 juta tahun silam dengan terbentuknya Gunung Nongkojajar yang besar. Gunung ini diperkirakan sempat tumbuh berkembang hingga ketinggian 3.000 meter lebih atau hampir menyamai Gunung Semeru yang ada di sebelah selatannya. Namun pertumbuhan Gunung Nongkojajar berakhir ketika letusan paroksismal yang dahsyat (dalam skala VEI 6 atau 7) menghancurkan sebagian besar tubuh gunung sehingga membentuk kawah raksasa (kaldera) yang dikenal sebagai kaldera Nongkojajar.

Pasca peristiwa ini, di tengah kaldera Nongkojajar lahirlah gunung berapi Anak Nongkojajar atau lebih dikenal dengan Gunung Ngadisari. Gunung ini muncul sejak 822 +/- 90 ribu tahun silam. Dan gunung Ngadisari pun mengikuti proses tumbuh kembang bapaknya (anggap saja gunung-gunung ini berjenis kelamin laki-laki) sehingga ketika tubuhnya sudah demikian besar, letusan paroksismal kembali terjadi dan menghancurkannya hingga tinggal menyisakan kaldera yang dikenal sebagai kaldera Ngadisari.

Perjalanan waktu membuat proses serupa kembali terulang. Di tengah kaldera Ngadisari lahir dan tumbuh sang anak, yakni Anak Ngadisari (atau cucu Nongkojajar) yang kemudian lebih dikenal sebagai Gunung Tengger Tua. Gunung Tengger Tua muncul pada 265 +/- 40 ribu tahun lalu. Dalam proses selanjutnya, nampaknya kaldera Ngadisari pun melahirkan satu gunung berapi lagi, yakni Gunung Keciri. Namun kapan munculnya Gunung Keciri belum diketahui dengan pasti, yang jelas ia lebih muda dibanding Gunung Tengger Tua saudaranya. Kedua gunung bersaudara ini lantas hidup rukun, saling tumbuh dan membesar hingga akhirnya peristiwa yang menimpa kakek dan bapaknya terulang. Letusan paroksismal, kali ini melibatkan dua gunung secara langsung, menghancurkannya sehingga membentuk kaldera Keciri.

Lautan pasir seperti yang bisa kita saksikan saat ini di sekitar Gunung Bromo sebenarnya merupakan bagian dari kaldera Lautan Pasir. Kaldera ini terbentuk sebagai akibat letusan paroksismal Gunung Cemoro Lawang atau gunung Anak Keciri, yakni gunung baru yang muncul pasca terbentuknya kaldera Keciri. Gunung Cemoro Lawang diidentifikasi lahir pada 135 +/- 30 ribu tahun yang lalu. Dan seperti halnya kakek buyut, kakek dan bapaknya, gunung ini lantas tumbuh tinggi dan membesar sebelum akhirnya letusan paroksismal menghancurkan tubuhnya. Jadi Pegunungan Tengger yang mengelilingi Gunung Bromo saat ini pada hakikatnya merupakan sisa lereng dari gunung-gunung berapi generasi sebelumnya yang telah hancur akibat letusan-letusan paroksismal teramat dahsyat di masa silam. Seberapa dahsyat letusan-letusan itu? Van Bemmelen menuturkan, Kaldera Tengger memiliki luas keseluruhan 100 km persegi dengan lebar kaldera 10 km dan punya tanda-tanda pernah mengalami proses longsoran besar ke arah utara yang merupakan proses volkano-tektonik. Ini menunjukkan letusan-letusan paroksismal di masa silam memiliki kedahsyatan melebihi letusan Tambora 1815, karena hanya letusan berenergi sangat tinggi sajalah yang sanggup menghasilkan proses volkano-tektonik dan kaldera sangat besar.

Gunung Bayi yang Sedang Membangun

Melihat sejarahnya maka Gunung Bromo yang ada pada saat ini pada hakikatnya adalah gunung bayi/anak-anak yang sedang tumbuh di kaldera. Gunung Bromo adalah satu-satunya gunung di dalam kaldera Tengger yang masih aktif. Di sekitarnya terdapat sejumlah gunung bayi lain seperti Gunung Batok, Widodaren, Kursi dan Giri, namun hanya Bromo yang masih aktif. Pratomo (2006) menempatkan aktivitas Gunung Bromo saat ini sebagai aktivitas pasca-kaldera yang ditandai dengan pertumbuhan kerucut lava atau skoria atau cinder cone pada dasar kaldera. Karena posisi dapur magma pasca-kaldera relatif lebih dangkal dengan sistem yang terbuka, maka letusan-letusan pasca-kaldera tidak didahului akumulasi energi yang besar sehingga letusannya tergolong letusan kecil. Umumnya letusan yang terjadi adalah letusan eksplosif yang bersifat membangun seperti Strombolian (jika hanya mengeluarkan magma) atau Maar (jika magma berinteraksi dengan air bawah tanah). Periode letusan gunung berapi pasca-kaldera umumnya pendek, rata-rata 10 tahun sekali.

Klasifikasi tersebut memang pas bagi Gunung Bromo. Citra satelit memperlihatkan kawah Gunung Bromo saat ini cukup besar dibanding saudara-saudaranya yang lain di dalam kaldera Lautan Pasir, sebagai indikasi pernah terjadi letusan Maar di masa silam. Catatan Neumann van Padang memperlihatkan bahwa Gunung Bromo memang memiliki masa istirahat pendek di antara dua letusannya, yakni kurang dari setahun (yang terpendek) hingga 16 tahun (yang terpanjang) dengan skala letusan VEI 1 atau 2. Pola letusan Bromo pun sangat khas aktivitas pasca-kaldera, yakni menghembuskan gas dan debu vulkanik secara vertikal hingga ketinggian 1-1,5 km saja tanpa disertai terjangan awan panas maupun leleran lava. Gunung Bromo tak pernah memperlihatkan kecenderungan mengalami letusan lebih besar, seperti halnya Gunung Kelud maupun Merapi. Analisis endapan lava memperkuatnya, dimana kadar silikat Bromo adalah 51-52 % atau lebih kecil dibanding kadar silikat Merapi 2010 yang mencapai 57 %.

Dengan ciri-ciri demikian maka tak perlu khawatir dengan aktivitas Gunung Bromo saat ini. Gunung ini masih bayi, sehingga letusannya (yang sudah terjadi sejak Jumat 26 November 2010 lalu) tergolong letusan minor yang bersifat membangun tubuhnya. Dampak letusan-pembangun-tubuh hanya akan dirasakan di sekitar wilayah kaldera Lautan Pasir saja sehingga hanya wilayah tersebutlah yang harus dikosongkan dari aktivitas manusia. Memang terdapat perbedaan antara letusan 2004 dengan letusan 2010 ini. Pada letusan 2004, durasinya singkat dan hanya didominasi letusan freatik (akibat interaksi magma dengan air bawah tanah sehingga air membentuk uap bertekanan tinggi). Sementara pada letusan 2010 ini, PVMBG mengindikasikan akan ada perubahan ditandai dengan tingginya jumlah gempa vulkanik Bromo, sesuatu yang tidak muncul di tahun 2004. Selain itu pengukuran EDM dan tilt-meter mengindikasikan tubuh Gunung Bromo mengalami inflasi (penggelembungan), pertanda masuknya magma ke tubuh gunung. Maka dari itu letusan Bromo 2010 ini ada kecenderungan bersifat magmatik. Namun potensi letusan magmatik yang lebih besar (seperti halnya Merapi 2010) boleh dikata cukup kecil.

h1

Paket Arung Jeram Bersama Easjava Ecotourism

13 Oktober 2010

ARUNG JERAM

INDONESIA memang kaya obyek wisata olahraga. Arung Jeram misalnya, hampir merata di semua daerah di tanah air, yang memiliki sungai. Sayangnya, wisatawan minat khusus ini tidak pernah digarapo serius, bahkan belum digali secara optimal, juga perhatian pemerintah terhadap wisata olahraga sangat kurang. Padahal potensinya sangat terbuka lebar.

Sungai Pekalen, terletak 25 km dari kota Probolinggo tepatnya terbentang di antara tiga kecamatan

berturut-turut yaitu kecamatan Tiris, kecamatan Maron, dan kecamatan Gading. Bantaran sungai yang bisa diarungi berjarak 29 km yang terbagi atas 3 area.

Karakteristik sungai berbelok dan bertebing, panorama alam yang indah, puluhan jeram (grade 2 s/d 3+) yang exotic dan menantang, kemegahan air terjun, dan kemolekan gua-gua kelelawar, serta masih ditemuinya beberapa satwa langka seperti burung elang, burung kepodang, monyet, biawak, linsang, tupai dll menjadi daya tarik tersendiri yang dapat Anda nikmati.

Harga Paket

A. Beautiful Trip  (Top Pekalen river, 12 km) Rp   350.000,- Min. 5 pax

B.  Fantastic Trip (Middle Pekalen river, 7 km) Rp 320.000,- Min. 5 pax

D.  Extreme Trip (Middle-Bottom Pekalen river, 17) Rp 481.000,- Min. 5 pax

E.  Expedition Trip (Top-Bottom Pekalen river, 29 km) Rp 681.000,- Min. 5 pax

FACILITY

  • Transportasi dari Malang / Surabaya PP
  • Welcome drink
  • Local transport
  • Guide & Rescue team
  • Standart Equipment
  • Snack & Drink
  • Lunch
  • Insurance

Informasi : 081945100081

h1

Birding at Lumajang

1 Oktober 2010

Summary:

Waterbirds and migrant waders on south coast of East Java.

Key bird species:

Javan Lapwing (until 1940, with local reports up until 2003-4); Australian Pratincole; Woolly-necked Stork; Pheasant-tailed Jacana; Red Avadavat; migrant shorebirds & waterbirds.

Birdwatching locations:

This seldom visited site on the south coast of east java is most famous for being one of the last confirmed locations of Javan Lapwing. Local people continue to report birds to be present, but survey work in 2006 failed to confirm them. Apart from a chance of fame by rediscovering the lapwing, the 20 km coastal strip between Pantai Bambang and Meleman is also great for waders and waterbirds in general. The best bet for birding the area is to base yourself in the town of Lumajang and then use a hire car or motorbike (Ojek, or hire one) to explore the coast around the villages of Pantai Bambang, Watu Pecak, Pandan Arum and Meleman.

Access and Accommodation:

Lumajang can most easily be reached from Surabaya by bus or car/taxi (4-5 hours). Within Lumajang town there are a number of basic cheap hotels any of which would be fine for a short stay. To get from there to the coast, ask at the hotel for the car or motorbike hire options, or get an ojek (motorbike taxi). From Lumajang to the coast is only around 30 mins.

info http://burung-nusantara.org/birding-sites/java-and-bali/lumajang/

h1

Gelatik Jawa (Padda Oryzivora) Di Kota Malang

14 Juni 2010

Kota Malang, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, dan dikenal dengan julukan kota pelajar.

Berdasarkan perkembanganya Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

Perkembangan yang pesat ini mengakibatkan satwa jenis burung pun tergusur dari Kota Malang, sehingga bangungan hunian atau bisnis, tidak lagi nyaman bagi habitat satwa seperti burung.  Jika pada tahun 1996 setidaknya ada 35 jenis burung di Kota Malang, maka dari survei sebuah organisa perlindungan satwa yang berkantor pusat di Malang pada tahun 2009 jumlahnya menyusut tinggal 16 jenis burung saja yang kini bertahan. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian  universitas Negeri Malang tahun 2009 tercatat ada 15 spesies burung berasal dari 8 familia.

Dalam pekembangan kemajuan kota , maka suatu kota dikatakan hijau dapat dilihat dari keberadaan burung-burung yang ada di kota tersebut. Hal ini karena burung merupakan salah satu indikator keanekaragaman hayati. Keberadaannya burung di alam sangat penting karena memiliki keterlibatan dalam fungsi ekologis. Kelestarian hidup burung sangat tergantung terhadap keberadaan dan kondisi habitatnya. Saat ini hanya sekitar 4 lokasi yang menjadi habitat burung di kota malang dan sangat mudah untuk mengamati jenis-jenis burung penghuni kota yang tersisa. Yaitu Taman Tugu, Taman Alun-alun Merdeka, halaman Kantor bupati Malang dan Taman Ijen. Ke empat lokasi itu kelimpahan jenisnyapun beragaman.

GELATIK JAWA  : Yang Tersisa

Gelatik Jawa (Padda Oryzivora, Rice Finch, Java Sparrow) merupakan salah satu jenis burung endemik di Jawa dan Bali. Burung yang mempunyai paruh merah, kepala hitam dengan bercak putih di pipi ini saat ini menjadi burung favorit untuk dipelihara. Sehingga tampa disadari keberadaan di alampun semakin kian menurun, Walaupun endemic jawa namun keberadaan burung ini bukan hanya di Indonesia saja tetapi burung ini juga ditemukan di alam bebas seperti di Hawaii, pulau Christmas dan tentu saja Indonesia sebagai Negara asal.

Gelatik Jawa (Padda oryzivora; Rice Finch; Java Sparrow) burung yang seukuran burung Gereja ini memiliki nama ilmiahnya dari kata ” Padda”  yang berasal dari bahasa Cina yang berarti butiran padi sedangkan “Oryzivora” berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari dua kata, yaitu oryza dan vorus. Oryza adalah genus padi domestik sedangkan vorus berarti memakan.  Jadi arti secara umum dari Padda oryzivora adalah burung pemakan butiran padi. Sesuai dengan namanya, makanan utama bagi Gelatik Jawa adalah padi, sehingga berpotensi menjadi hama bagi para petani. Namun, ketika petani tidak menanam padi dan mengganti dengan tanaman lainnya seperti palawija, burung ini mampu mengubah menu makan mereka menjadi pemakan serangga, buah-buahan, dan biji-bijian (jagung dan rumput).

Ironisnya saat ini untuk menemukan satwa endemik jawa ini di Malang  butuh sebuah  keberuntungan,  hal ini disamping butuh kejelian mata melihat ke cabang-cabang canopy pohon,  lalu-lintas kendaraan yang padat juga menjadi kendala di sekitaran taman-taman yang ada di kota malang, dan ini  sering kali mengangu kita para pengamat burung.

Distribusi Gelatik di Jawa dan Bali

Populasi Gelatik Jawa di Jawa Barat dapat dijumpai di kota Bogor, Jakarta, Depok, Sukabumi, Cianjur, Cibodas, Bandung, Banjar, dan Cirebon. Di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, burung ini terdapat di Purworejo, Kutoarjo, Brebes, Magelang, Kodya Yogyakarta, Prambanan, Gunung Kidul, Semarang, Solo, Jepara, dan Wonogiri. Di Bali, kita dapat menjumpainya di Kuta, Denpasar, Ubud, Tanah Lot, Ulu Watu, Buleleng, dan Nusa Dua. Di Jawa Timur, burung endemik ini dapat ditemukan di, Kediri, Gresik, Surabaya, dan T.N. Baluran, Malang yaitu di 4 lokasi taman kota malang.  Salah satu breeding site alias tempat bersarang bagi Gelatik Jawa yang relatif aman adalah Balai Kota Malang dan Kantor Bupati malang yang lokasinya tidak jauh dari Alun-alun malang.

Berdasarkan pengamatan Eastjava Ecotourism pada di bulan Juni 2010 ditemukan 3 ekor Gelatik jawa junvile, dengan cirri-ciri, warna bulu coklat, paruh mulai kemerahan di ujungnya pangkalnya coklat , kaki merah. Penemuan ke 3 ekor gelatik Jawa yang muda ini merupakan suatu hal yang sangat mengejutkan, di tengah meningkatnya pembangunan Mall di kota malang, terjadi juga penambahan individu gelatik Jawa di Kota malang. Keberadaan burung ini benar-benar mengembirakan karena Gelatik Jawa muda ini menggunakan pohon Flamboyan sebagai tempat beristirahat.

Karena keterancamnya,  spesies ini dimasukkan dalam International Union for Conservation of nature and Natural Resources (IUCN) Redlist dengan status Vulnerable atau rentan. Ini berarti terjadi penurunan populasi dan mempunyai peluang untuk punah. Penyebab kepunahan burung ini diantaranya adalah perburuan, meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman.

Order: Passeriformes
Family: Estrildidae
Species: Lonchura oryzivora
Synonymous: Padda oryzivora

h1

Pengamatan burung (Bird watching) hobby baru yang menantang

4 Juni 2010

Mereka Lebih Indah Di Alam

Mereka yang sering memperhatikan burung biasanya gemar, sketsa indah atau mengambil foto, Kenyataan sejarah menunjukan bahwa sudah sejak lama orang menuangkan keindahan burung antara lain dalam bentuk sastra, lukisan, seni pahat dan tarian.

Dewasa ini, banyak orang memelihara burung dengan dalih untuk menikmati keindahannya. Parahnya lagi banyak kalangan yang menyatakan diri sebagai pecinta burung justru malakukan eksploitasi dan menjadi ancaman terhadap hidupan liar burung. Padahal, burung lebih bernilai seni bila berada bebas di alam, suaranya lebih merdu karena timbul dari kegirangan alami dan warnanya lebih menawan karena cahaya matahari membiaskan efek warna yang lebih indah pada burung yang ada di alam ketimbang yang ada di dalam sangkar. Membiarkan burung bebas di alam juga lebih bernilai moral dan merupakan wujud panghargaan antara sesama mahluk hidup. Sayangnya, birdwatching belum mendapatkan perhatian dan sambutan dalam masyarakat kita.

Bukan Sekedar Ngintip

Mengamati burung dengan peralatan utamanya berupa teropong, telah lama dikenal masyarakat Eropa dan Amerika, namun sekarang negara-negara di Asia seperti Jepang, Singapura dan Taiwan juga telah memiliki banyak pengamat burung, Bahkan di Indonesiapun para Bird watcher tumbuh menjamur menjadi hobby baru.

Pada awalnya kegiatan birdwatching didorong oleh rasa senang yang kemudian berkembang menjadi suatu gerakan kepedulian dan tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Contohnya Royal Society for Preservation of Bird  RSPB), sebuah klub pengamat burung di Inggris yang memiliki anggota lebih dari satu juta orang dan Wild Bird Society of Japan (WBSJ) yang beranggotakan lebih dari 700.000 orang. Klub-klub tersebut memberikan kontribusi yang besar bagi pelestarian alam di negerinya masing-masing, bahkan telah banyak membantu kegiatan pelestarian di luar negara mereka.

Kegiatan pengamatan burung erat kaitannya dengan olah raga. Seorang pengamat burung cenderung untuk bergerak mencari objek yang kerap kali dilakukan dengan berjalan kaki. Sambil mengamati burung, tanpa terasa kita bisa berjalan sejauh 4-5 km, cukup untuk mengeluarkan keringat dan melatih otot kaki. Waktu terbaik mengamati burung adalah pada saat burung aktif yaitu pukul 06.00-10.00, saat di mana udara masih terasa segar. Pengamatan juga biasa dilakukan pada sore hari manakala sinar matahari sudah tidak begitu terik menyengat.

Adakalanya pengamat burung menembus kegiatan olah raga yang dianggap menantang dan cukup berbahaya, antara lain repling (turun tebing). Bila objek yang diamati (seperti burung alap-alap kawah) tinggal atau hidup di tebing cadas atau karang, maka mau tidak mau keahlian turun tebing sangat diperlukan. Mendaki gunung dan menjelajah rimba yang dihuni binatang buas menjadi daerah petualangan yang sering dinikmati pengamat burung. Tapi sesungguhnya pengamat burung tidak harus seperti petualang dan memiliki keahlian berpetualang, karena burung tidak hanya hidup di hutan atau gunung yang jauh dari hunian manusia, tapi juga di lingkungan sekitar kita.

Padahal, di balik sekedar hobi, manfaat yang bias diraih dari kegiatan ini sangatlah besar, antara lain bias dilihat dari aspek olah raga, seni, ilmiah, konservasi dan ekowisata.

Segi ilmiah adalah bagian yang paling menonjol dari birdwatching. Pengamat burung sangat berperan dalam menunjang ilmu pengetahuan. Walaupun kegiatannya secara sepintas dapat dikatakan sederhana, yaitu hanya melihat dan mencatat apa yang mereka temukan, namun seringkali catatan tersebut menghasilkan data ilmiah yang sangat bermanfaat, seperti daftar jenis burung yang ditemukan di suatu daerah yang sangat penting sebagai bagian dari inventarisasi keanekaragaman hayati.

Manfaat ilmiah lain adalah kita bias mengetahui keragaman jenis burung-burung yang ada di tepi pantai yang berbeda dengan yang hidup di hutan dataran rendah dan berlainan pula dengan yang ada di pegunungan. Terkadang jenis baru berhasil ditemukan oleh pengamat burung amatir. Seorang ahli burung, setinggi apapun tingkat pengetahuan burungnya, tidak pernah meninggalkan kegiatan pengamatan burung, karena salah satu dasar dari semua ilmu burung adalah pengamatan burung di alam. Informasi ilmiah yang dihasilkan pengamat burung tidak terbatas pada aspek inventarisasi saja. Catatan sederhana yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, bisa berkembang ke berbagai aspek kehidupan burung seperti makanan, perkembangbiakan dan tingkah lakunya. Catatan ini bila digabungkan akan melahirkan informasi yang sangat berguna untuk pelestarian burung. Bahkan kebiasaan menuangkan informasi secara rinci dapat menghasilkan  pengetahuan tentang timbal balik antara burung dengan alam (ekologi burung). Misalnya, pengetahuan terhadap sejenis burung sebagai pemakan serangga yang bersifat hama dapat dimanfaatkan sebagai senjata alamiah untuk penanggulangan hama tersebut. Kita masih ingat kasus penyerbuan belalang di Lampung tempo hari, mungkin kejadiannya tidak akan separah yang dialami seandainya di daerah itu masih cukup banyak burung pemakan belalang tersebut

Pengembangan kandungan ilmiah dalam mengamati burung berlanjut pada pelestarian alam (konservasi). Perlu diketahui bahwa Indonesia adalah negeri yang paling banyak memiliki burung yang terancam punah (lebih dari 300 jenis, nomor satu di dunia). Bagaimana mungkin penyelamatan burung dari ancaman kepunahan akan berhasil bila pengetahuan kehidupan burung yang akan diselamatkan tidak ada?.

Dapat dibayangkan, kepunahan jenis burung yang cukup memalukan bagi bangsa yang diberkahi alam yang kaya ini, akan semakin parah bila tidak ada atau sedikit sekali orang yang peduli terhadap kelestarian burung. Kita telah kehilangan Trulek Jawa, yaitu sejenis burung rawa asli Pulau Jawa yang telah dinyatakan punah, tentunya kita tidak ingin daftar kepunahan itu bertambah panjang.

Keberadaan burung telah dijadikan sebagai indikator keanekaragaman hayati. Hal ini sangat berguna untuk menyusun strategi pelestarian kanekaragaman hayati sehingga berlanjutnya kerusakan bisa dicegah. Di sinilah peran seorang pengamat burung semakin berarti. Dengan catatan sederhananya mereka bisa menyumbangkan pengetahuan yang berharga untuk pelestarian alam. Sebenarnya peran sebagai pelestari alam sudah dilakukan oleh seseorang ketika dia memegang teropong untuk menjadi seorang pengamat burung. Seorang pengamat burung dengan sendirinya akan memiliki kaidah-kaidah konservasi melalui keinginannya untuk membiarkan burung hidup bebas di alam, tidak semena-mena menangkapnya dan tidak merusak habitatnya. Sikap ini telah menunjukkan kesadaran dan penghargaan terhadap mahluk hidup yang sama-sama menempati planet bumi ini. Dengan demikian seorang pengamat burung dapat dikatakan telah melaksanakan sebagian tanggung jawabnya terhadap alam.

Ekowisata atau ecotourism dalam pengertian singkat sedikitnya memiliki tiga kategori kegiatan yaitu perjalanan (tur) di alam terbuka, tur yang dikaitkan dengan keserasian ekologi dan yang dapat berbentuk sebuah ekspedisi (berhubungan dengan eksplorasi  ilmiah dan bernuansa petualangan). Kegiatan pengamatan burung pada dasarnya merupakan kegiatan ekowisata yang mencakup tiga kategori di atas. Seorang pengamat burung melakukan kegiatannya di alam terbuka. Mereka juga menikmati dan mempelajari ekologi (burung) dan sering kali merancang kegiatannya dalam bentuk ekspedisi mengunjungi daerah “baru” di pedalaman atau daerah yang jarang terjamah manusia.

Selain terlibat langsung sebagai pelaku tour (turis) di dalam ekowisata, pengamat burung juga berperan dalam mendukung ekowisata, misalnya sebagai pemandu atau yang mempromosikan keindahan alam melalui burung. Kegiatan ekowisata yang menyajikan burung sebagai objek utama belum dikembangkan secara optimal, padahal berpeluang cukup besar untuk menarik wisatawan. Paket ekowisata dengan penekanan pada pengamatan burung yang dikelola oleh EastJava Adventure telah berkembang menjadi paket yang semakin banyak diminati, dan Indonesia adalah salah satu daerah tujuan mereka. Papua Bird Club yang berkedudukan di manokwari telah menangkap peluang ini dan cukup berhasil. Begitupun oleh kami yang bebasis di jawa timur

h1

ETIKA LINGKUNGAN DALAM BERPETUALANG DI ALAM

4 Juni 2010

Etika Lingkungan

Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani ethos (dalam bentuk tunggal) yang mempunyai arti tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berfikir, atau ta etha (dalam bentuk jamak) yang berarti adat kebiasaan.  Jadi etika dapat berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.  Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang lama, etika dijelaskan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas – asas akhlak (moral), sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru, etika diartikan sebagai (1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (ahklak); (2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; (3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Etika merupakan petunjuk dasar bagi tingkah laku, cara pikir dan keyakinan.  Tidak satu kelompok manusia pun yang hidup tanpa etika.  Kelompok pecinta alam memerlukan suatu pegangan yang menyangkut hal-hal yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan berkaitan dengan kegiatannya.  Etika dalam prakteknya memiliki arti yang sama dengan moral, yang keduanya berhubungan dengan tingkah laku manusia dan menjadi tolok ukur tingkah laku manusia yang bersangkutan.  Tolok ukur ini mengacu pada benar dan salah, baik dan buruk dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya.  Dalam bertingkah laku, khsususnya di alam kita perlu menerapkan beberapa hal, diantaranya melindungi alam, pengendalian diri, kesederhanaan, tanggungjawab, kejujuran, kemerdekaan, harga diri

Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan peri kehidupan serta kesejahteraan manusia dan mahkluk hidup lainnya.  Lingkungan hidup merupakan sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem.

Etika lingkungan adalah berbagai prinsip moral lingkungan.  Jadi etika lingkungan merupakan petunjuk perilaku manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan.  Dengan etika lingkungan kita tidak saja mengimbangi hak dan kewajiban terhadap lingkungan, tetapi etika lingkungan juga membatasi tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan hidup kita.  Dengan etika lingkungan kita perlu meningkatkan solidaritas sosial diantara sesama serta solidaritas alam dengan lingkungan hidup alam kita.

Agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya maka perlu adanya etika lingkungan.  Ada sejumlah butir etika lingkungan yang mesti dipahami oleh masyarakat pada umumnya, dan para pecinta alam pada khususnya sebagai sekelompok orang yang sebagian besar bahkan seluruh kegiatannya berkaitan dengan alam, diantaranya yaitu untuk menjadikan alam sebagai saudara.  Sebagai saudara, manusia tidak akan rela mengeksploitasi alam berlebihan, apalagi menyakitinya.  Selain itu ada proses pembatinan lingkungan, suatu proses dengan tujuan untuk membangkitkan rasa sayang terhadap lingkungan sehingga akan ikut serta memelihara dan menjaga kelestariannya.  Selain itu juga perlu ada tanggung jawab moral ketika terjadi kerusakan lingkungan.

Ada beberapa tahapan dari Etika Lingkungan yaitu :

  1. Egoisme yang berdasarkan keakuan tetapi penuh kesadaran akan ketergantungannya pada makhluk lain sehingga seorang egois dapat berperan serta dalam pengelolaan lingkungan; egoisme juga dapat disebut individualisme
  2. Humanisme; solidaritas terhadap sesama manusia
  3. Sentientisme; kesetiakawanan terhadap mahluk lain yang memiliki perasaan (manusia lain atau hewan)
  4. Vitalisme; kesetiakawanan terhadap makhluk lain yang tidak memiliki perasaan (misalnya tumbuhan)
  5. Altruisme, tingkatan akhir dari etika lingkungan, yakni solidaritas terhadap semua yang ada, sebagai sesama ciptaan Tuhan di Bumi ini, karena ketergantungan diri kita kepada semua yang ada, tidak hanya pada sesama manusia atau mahkluk hidup saja, tetapi juga makhluk lainnya yang tidak hidup/benda mati (non hayati), karena tidak ada kehidupan tanpa adanya ciptaan Tuhan yang bersifat non hayati/benda mati.

Kegiatan Pecinta Alam

Kegiatan seorang pecinta alam tidak terpisahkan dari lingkungan karena sebagian besar atau bahkan seluruh kegiatan pecinta alam berkaitan dengan lingkungan baik itu lingkungan hutan, gunung, gua, sungai, tebing dan lain-lain.  Kegiatan tersebut merupakan wujud kedekatan seseorang dengan alam yang dicintainya.

Kegiatan kepecintaalaman tersebut pada masa sekarang ini merupakan suatu kegiatan yang cukup populer sehingga banyak orang yang ikut serta dan turut menggemarinya.  Akan tetapi sekedar gemar saja tidak cukup.  Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kejadian semakin rusaknya alam akibat dari kegiatan yang mengatasnamakan kecintaannya terhadap alam dan juga terjadinya peristiwa-peristiwa kecelakaan pada saat kegiatan tersebut dilaksanakan, seperti misalnya pendakian gunung, penelusuran gua, arung jeram, panjat tebing dan lain-lain.  Kecelakaan ini bukanlah disebabkan alam yang kejam dan tidak terkuasai, tetapi lebih banyak tergantung pada para pecinta alam itu sendiri.

Demikianlah, kecintaalam tidak hanya menuntut minat dan semangat, namun juga yang terpenting adalah pengetahuan tentang alam dan lingkungannya, keter yang berupa perjalanan alam bebas atau ekspedisi tersebut, seorang pecinta alam harus membekali diri.  Bekal tersebut berupa :

  1. Berani dalam arti sanggup menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan kemudian mengatasinya dengan cara bijaksana dan benar mengakui keterbatasan kemampuan yang dimilikinya.
  2. Meliputi tali temali, PPPK, Metoda komunikasi, perkemahan dan bivak, Navigasi Darat, Survival, Mountaineering, Penelusuran Gua, Penelusuran Sungai dan SAR.
  3. Karena kegiatan kepecintaalaman termasuk olahraga yang cukup berat dan seringkali tergantung kepada kemampuan fisik, maka setiap pecinta alam harus memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat untuk menghadapi dan melaksanakan setiap kegiatan tersebut.
  4. Demikian sehingga terdapat kode etik pecinta alam yang akan memberikan pedoman sikap pecinta alam.
  5. Tetapi lebih dari itu, dia dituntut untuk mengutamakan perlindungan dan pelestariannya.

Etika Berkelana di Rimba Raya

Lokasi rimba raya yang menjadi sasaran kegiatan berkelana biasanya jauh dari tempat pemukiman.  Rimba raya di Indonesia terwujud dalam berbagai bentuk ekosistem.  Diantaranya adalah ekosistem hutan pegunungan, hutan berbukit-bukit, hutan dataran rendah, hutan savana, hutan pantai dan hutan tanah gambut. Sebaiknya kita tidak melakanakan perjalanan tanpa tujuan yang jelas dan persiapan perencanaan yang memadai.  Agar rencana perjalanan berjalan dengan lancar, selamat dan sukses, terlebih dahulu harus diketahui hal-hal yang boleh dilakukan, hal-hal yang tidak boleh dilakukan, kemungkinan yang akan dihadapi, tindakan pada waktu tersesat, perlengkapan yang harus dibawa dan lain-lain.

Pengelana yang bertanggung jawab tidak akan melakukan :

  • Menyalakan api secara tidak dikendalikan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan
  • Merusak tanda-tanda di lapangan, baik tanda-tanda lalu lintas, tanda larangan dan penjelasan tentang obyek-obyek
  • Tidak merusak sarana dan prasarana wisata yang ada
  • Tidak mengganggu unsur-unsur habitat dan satwa khas yang ada
  • Tidak melakukan keisengan-keisengan yang dapat menyusahkan/mencelakakan orang lain (memasang petasan, jebakan dan lain-lain)
  • Tidak membuat corat-coret pada pohon-pohon dan batu-batuan
  • Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang kurang terpuji (menurut norma agama dan adat istiadat)
  • Tidak membuang sampah sembarangan, sedapat mungkin dibawa pulang
  • Tidak melakukan perburuan satwa, apalagi yang dilindungi
  • Tidak merusak tumbuhan dan batuan dengan coretan cat atau menorehnya dengan pisau
  • Kurangi sedapat mungkin penebangan/pemotongan pohon dan belukar
  • Pada keadaan darurat (tersesat, kecelakaan, perbekalan habis, dan lain-lain) jangan panik.  Lakukan prosedur-prosedur yang diperlukan dan cari pertolongan secepatnya

Etika dalam Mendaki Gunung

Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju sebuah gunung, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan.

Ketika anda merencanakan untuk menaiki sebuah gunung yang cukup sulit, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya. Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan route yang akan anda lalui, kemudian anda siap untuk melakukan perjalanan.

Bahaya tentu saja akan selalu ada baik itu dari anda dan tim anda yang menyangkut kesiapan perlengkapan dan peralatan tim maupun pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tim dalam melakukan perjalanan. Bahaya dari luar akan selalu ada, tergantung kesiapan tim dan kesolidan tim dalam menghadapinya.

Mental akan sangat berpengaruh dalam perjalanan anda. Sejauh mana kemampuan leader dalam memimpin tim dan respect tim terhadap leader dengan segala keputusannya. Bagaimana sesama anggota tim saling mendukung dan membantu satu sama lain.

Demi keselamatan pengunjung dan kelestarian alam, pendaki hendaknya mematuhi kewajiban sebagai berikut :

  1. Sebelum melakukan pendakian, calon pendaki diwajibkan melapor ke pos jaga terkahir, untuk dilihat apakah persyaratan pendakian telah dipenuhi atau belum
  2. Pendaki juga diwajibkan melapor ke perangkat desa (terakhir) di rute perjalanan
  3. Setelah pendakian, pendaki diwajibkan lapor ke pemberi ijin, untuk memastikan ada tidaknya pendaki yang telambat turun
  4. Pendaki diwajibkan memperhatikan kebiasaan dan adat istiadat setempat (pakaian, hal-hal yang ditabukan dan lain-lain)
  5. Bila terjadi musibah agar segera ke pos kehutanan dan atau aparat pemerintah setempat
  6. Yakinkan bahwa bekas api unggun telah benar-benar padam sebelum ditinggalkan
  7. Pendaki agar mempunyai asuransi kecelakaan diri
  8. Larangan

Untuk berhasilnya suatu pendakian, agar diperhatikan larangan-larangan sebagai berikut:

  • Dilarang keras membawa obor sebagai alat penerangan (pada pendakian malam hari), agar tercegah kebakaran.  Sebagai gantinya dapat digunakan senter
  • Dilarang membuang benda yang mengandung api (misalnya puntung rokok) selama pendakian
  • Dilarang mempergunakan kayu untuk keperluan apapun (api unggun, masak, tongkat)
  • Dilarang mengambil tumbuhan dan binatang, telur atau sarang apapun, terutama bila gunung yang didaki termasuk kawasan konservasi (cagar alam, taman nasional)
  • Dilarang membuat kegaduhan (berbicara keras, membunyikan alat musik) yang dapat mengganggu kehidupan satwa dan pendaki lain
  • Dilarang membuang sampah apapun (kertas, plastik, kaleng).  Benda-benda tersebut harus diangkut kembali ke bawah
  • Dilarang mencemari lingkungan, termasuk mencoret-coret batu, kulit/akar/daun pohon
  • Dilarang melakukan tindakan apapun yang dapat mengganggu keaslian alam

Etika Penelusuran Gua

Menelusuri gua dapat dikerjakan untuk olah raga maupun untuk tujuan ilmiah. Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi ETIKA dan KEWAJIBAN kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar akan kewajibannya terhadap sesama penelusur dan masyarakat disekitar lokasi gua-gua. Kemahiran teknik saja tidak cukup untuk menganggap dirinya mampu dan pantas melakukan kegiatan penelusuran gua. Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus memenuhi etika dan kewajiban penelusuran gua.

Etika

  1. Sejak semula harus disadari bahwa seorang penelusur gua dapat merusak gua, karena membawa kuman, jamur, dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya masih murni, tidak tercemar. Penelusuran gua akan merusak gua apabila meninggalkan kotoran berupa sampah, sisa karbit, puntung rokok, sisa makanan, batu baterai mati, kantong plastik, botol/kaleng minuman dan makanan dalam gua. Membuang benda-benda tersebut di atas adalah larangan mutlak juga dilarang corat-coret gua dengan benda apapun juga.Karenanya ikutilah MOTTO NSS dari USA :
    “jangan mengambil sesuatu……… kecuali mengambil potret”
    “jangan meninggalkan sesuatu ….. kecuali meninggalkan jejak”
    “jangan membunuh sesuatu ……… kecuali membunuh waktu”
  2. Gua adalah bentukan alam yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun. Setiap usaha merusak gua mendatangkan kerugian yang tidak dapat di tebus. Karenanya jangan merusak gua, mengambil atau memindahkan sesuatu di dalam gua tanpa tujuan jelas yang dapat dipertanggungjawabkan.
    Untuk tujuan ilmiah sekalipun harus diusahakan pengambilan specimen secara cermat, terbatas dan selektif. Itupun setelah diyakini, bahwa belum tersedia specimen yang sama di dalam laporan atau museum dan belum diambil specimen yang sama oleh ahli speleologi lainnya.
    Menelusuri dan meneliti gua harus dilakukan dengan penuh respek, tanpa mengganggu, mengusir, merusak/mengambil isi gua, baik yang berupa benda mati atau yang hidup.
  3. Menelusuri gua harus disertai kendaraan, bahwa kesanggupan dan ketrampilan pribadi tidak usah dipamerkan. Sebaliknya ketidakmampuan tidak perlu ditutupi oleh karena rasa malu. Bertindaklah sewajar-wajarnya, tanpa membohongi diri sendiri dan orang lain. Apabila tidak sanggup, tetapi dipaksakan maka hal ini akan membawa akibat buruk yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Adalah melanggar etika untuk memandang rendah ketrampilan serta kesanggupan sesama penelusur. Juga melanggar etika bila memaksakan diri dilakukan tindakan di luar kemampuan teknis juga apabila belum siap mental dan kesehatan tidak memadai.
  4. Tunjukkan respek terhadap penelusur gua dengan cara :
    – Tidak menggunakan bahan-bahan atau peralatan yang disediakan oleh rombongan lain tanpa persetujuan mereka.
    Jangan membahayakan para penelusur lain, misalnya menimpukkan batu ketika ada penelusur lain di dalam gua, mengambil atau memutuskan tali yang sedang terpasang, memindahkan tangga atau alat-alat lain yang dipasang pemakai, penelusur lain.
    – Menghasut penduduk di sekitar gua untuk melarang atau menghalangi rombongan lain memasuki gua, karena tidak ada satupun gua di bumi ini milik perseorangan kecuali apabila gua itu telah dibeli oleh yang bersangkutan. Untuk tujuan ilmiahpun, setiap gua harus dapt diteliti setelah menempuh prosedur yang berlaku.
    – Jangan gegabah menganggap anda penemu sesuatu, kalau anda yakin betul, bahwa tidak ada orang lain yang menemukannya pula.
    – Jangan melaporkan hal-hal yang tidak benar demi sensasi atau ambisi pribadi, karena hal ini berarti membohongi diri sendiri dan dunia ilmu speleologi khususnya.
    – Setiap usaha penelusuran gua ialah usaha bersama. Bukan usaha yang dicapai sendiri. Karena setiap publikasi dari hasil penelusuran gua tidak boleh menonjolkan prestasi pribadi tanpa mengingat jasa sesama penelusur.
    – Jangan menjelek-jelekkan nama sesama penelusur dalam suatu publikasi walaupun si penelusur itu mungkin berbuat hal-hal negatif secara sadar atau tidak sadar. Setiap publikasi negatif tentang sesama penelusur akan memberikan gambaran negatif terhadap semua penelusur gua.
    – Jangan melakukan penelitian yang sama apabila ada rombongan lain yang sedang mengerjakan dan belum mempublikasikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K.  2001.  Etika.  Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Sandra, Edhi dkk.  1998.  Pedoman Umum Wisata Remaja di Alam Bebas.  Fakultas Kehutanan IPB.

——-.  2001.  Etika Penelusuran Gua.  Yogya.

Denpasar (Bali Post). 2001. Lestarikan Alam, perlu Ada Etika Lingkungan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: