h1

ETIKA LINGKUNGAN DALAM BERPETUALANG DI ALAM

4 Juni 2010

Etika Lingkungan

Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani ethos (dalam bentuk tunggal) yang mempunyai arti tempat tinggal yang biasa; padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berfikir, atau ta etha (dalam bentuk jamak) yang berarti adat kebiasaan.  Jadi etika dapat berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.  Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang lama, etika dijelaskan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas – asas akhlak (moral), sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru, etika diartikan sebagai (1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (ahklak); (2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak; (3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Etika merupakan petunjuk dasar bagi tingkah laku, cara pikir dan keyakinan.  Tidak satu kelompok manusia pun yang hidup tanpa etika.  Kelompok pecinta alam memerlukan suatu pegangan yang menyangkut hal-hal yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan berkaitan dengan kegiatannya.  Etika dalam prakteknya memiliki arti yang sama dengan moral, yang keduanya berhubungan dengan tingkah laku manusia dan menjadi tolok ukur tingkah laku manusia yang bersangkutan.  Tolok ukur ini mengacu pada benar dan salah, baik dan buruk dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya.  Dalam bertingkah laku, khsususnya di alam kita perlu menerapkan beberapa hal, diantaranya melindungi alam, pengendalian diri, kesederhanaan, tanggungjawab, kejujuran, kemerdekaan, harga diri

Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan peri kehidupan serta kesejahteraan manusia dan mahkluk hidup lainnya.  Lingkungan hidup merupakan sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem.

Etika lingkungan adalah berbagai prinsip moral lingkungan.  Jadi etika lingkungan merupakan petunjuk perilaku manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan.  Dengan etika lingkungan kita tidak saja mengimbangi hak dan kewajiban terhadap lingkungan, tetapi etika lingkungan juga membatasi tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan hidup kita.  Dengan etika lingkungan kita perlu meningkatkan solidaritas sosial diantara sesama serta solidaritas alam dengan lingkungan hidup alam kita.

Agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya maka perlu adanya etika lingkungan.  Ada sejumlah butir etika lingkungan yang mesti dipahami oleh masyarakat pada umumnya, dan para pecinta alam pada khususnya sebagai sekelompok orang yang sebagian besar bahkan seluruh kegiatannya berkaitan dengan alam, diantaranya yaitu untuk menjadikan alam sebagai saudara.  Sebagai saudara, manusia tidak akan rela mengeksploitasi alam berlebihan, apalagi menyakitinya.  Selain itu ada proses pembatinan lingkungan, suatu proses dengan tujuan untuk membangkitkan rasa sayang terhadap lingkungan sehingga akan ikut serta memelihara dan menjaga kelestariannya.  Selain itu juga perlu ada tanggung jawab moral ketika terjadi kerusakan lingkungan.

Ada beberapa tahapan dari Etika Lingkungan yaitu :

  1. Egoisme yang berdasarkan keakuan tetapi penuh kesadaran akan ketergantungannya pada makhluk lain sehingga seorang egois dapat berperan serta dalam pengelolaan lingkungan; egoisme juga dapat disebut individualisme
  2. Humanisme; solidaritas terhadap sesama manusia
  3. Sentientisme; kesetiakawanan terhadap mahluk lain yang memiliki perasaan (manusia lain atau hewan)
  4. Vitalisme; kesetiakawanan terhadap makhluk lain yang tidak memiliki perasaan (misalnya tumbuhan)
  5. Altruisme, tingkatan akhir dari etika lingkungan, yakni solidaritas terhadap semua yang ada, sebagai sesama ciptaan Tuhan di Bumi ini, karena ketergantungan diri kita kepada semua yang ada, tidak hanya pada sesama manusia atau mahkluk hidup saja, tetapi juga makhluk lainnya yang tidak hidup/benda mati (non hayati), karena tidak ada kehidupan tanpa adanya ciptaan Tuhan yang bersifat non hayati/benda mati.

Kegiatan Pecinta Alam

Kegiatan seorang pecinta alam tidak terpisahkan dari lingkungan karena sebagian besar atau bahkan seluruh kegiatan pecinta alam berkaitan dengan lingkungan baik itu lingkungan hutan, gunung, gua, sungai, tebing dan lain-lain.  Kegiatan tersebut merupakan wujud kedekatan seseorang dengan alam yang dicintainya.

Kegiatan kepecintaalaman tersebut pada masa sekarang ini merupakan suatu kegiatan yang cukup populer sehingga banyak orang yang ikut serta dan turut menggemarinya.  Akan tetapi sekedar gemar saja tidak cukup.  Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kejadian semakin rusaknya alam akibat dari kegiatan yang mengatasnamakan kecintaannya terhadap alam dan juga terjadinya peristiwa-peristiwa kecelakaan pada saat kegiatan tersebut dilaksanakan, seperti misalnya pendakian gunung, penelusuran gua, arung jeram, panjat tebing dan lain-lain.  Kecelakaan ini bukanlah disebabkan alam yang kejam dan tidak terkuasai, tetapi lebih banyak tergantung pada para pecinta alam itu sendiri.

Demikianlah, kecintaalam tidak hanya menuntut minat dan semangat, namun juga yang terpenting adalah pengetahuan tentang alam dan lingkungannya, keter yang berupa perjalanan alam bebas atau ekspedisi tersebut, seorang pecinta alam harus membekali diri.  Bekal tersebut berupa :

  1. Berani dalam arti sanggup menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan kemudian mengatasinya dengan cara bijaksana dan benar mengakui keterbatasan kemampuan yang dimilikinya.
  2. Meliputi tali temali, PPPK, Metoda komunikasi, perkemahan dan bivak, Navigasi Darat, Survival, Mountaineering, Penelusuran Gua, Penelusuran Sungai dan SAR.
  3. Karena kegiatan kepecintaalaman termasuk olahraga yang cukup berat dan seringkali tergantung kepada kemampuan fisik, maka setiap pecinta alam harus memiliki kemampuan fisik yang cukup kuat untuk menghadapi dan melaksanakan setiap kegiatan tersebut.
  4. Demikian sehingga terdapat kode etik pecinta alam yang akan memberikan pedoman sikap pecinta alam.
  5. Tetapi lebih dari itu, dia dituntut untuk mengutamakan perlindungan dan pelestariannya.

Etika Berkelana di Rimba Raya

Lokasi rimba raya yang menjadi sasaran kegiatan berkelana biasanya jauh dari tempat pemukiman.  Rimba raya di Indonesia terwujud dalam berbagai bentuk ekosistem.  Diantaranya adalah ekosistem hutan pegunungan, hutan berbukit-bukit, hutan dataran rendah, hutan savana, hutan pantai dan hutan tanah gambut. Sebaiknya kita tidak melakanakan perjalanan tanpa tujuan yang jelas dan persiapan perencanaan yang memadai.  Agar rencana perjalanan berjalan dengan lancar, selamat dan sukses, terlebih dahulu harus diketahui hal-hal yang boleh dilakukan, hal-hal yang tidak boleh dilakukan, kemungkinan yang akan dihadapi, tindakan pada waktu tersesat, perlengkapan yang harus dibawa dan lain-lain.

Pengelana yang bertanggung jawab tidak akan melakukan :

  • Menyalakan api secara tidak dikendalikan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan
  • Merusak tanda-tanda di lapangan, baik tanda-tanda lalu lintas, tanda larangan dan penjelasan tentang obyek-obyek
  • Tidak merusak sarana dan prasarana wisata yang ada
  • Tidak mengganggu unsur-unsur habitat dan satwa khas yang ada
  • Tidak melakukan keisengan-keisengan yang dapat menyusahkan/mencelakakan orang lain (memasang petasan, jebakan dan lain-lain)
  • Tidak membuat corat-coret pada pohon-pohon dan batu-batuan
  • Menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang kurang terpuji (menurut norma agama dan adat istiadat)
  • Tidak membuang sampah sembarangan, sedapat mungkin dibawa pulang
  • Tidak melakukan perburuan satwa, apalagi yang dilindungi
  • Tidak merusak tumbuhan dan batuan dengan coretan cat atau menorehnya dengan pisau
  • Kurangi sedapat mungkin penebangan/pemotongan pohon dan belukar
  • Pada keadaan darurat (tersesat, kecelakaan, perbekalan habis, dan lain-lain) jangan panik.  Lakukan prosedur-prosedur yang diperlukan dan cari pertolongan secepatnya

Etika dalam Mendaki Gunung

Ketika anda memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju sebuah gunung, tentu anda seharusnya mempersiapkan segala sesuatunya secara matang, baik personil, logistik, perlengkapan maupun pengetahuan medan.

Ketika anda merencanakan untuk menaiki sebuah gunung yang cukup sulit, tentu anda juga akan menyiapkan tim yang ideal dan solid menurut anda, dan anda tahu betul kemampuannya. Perbekalan dan peralatan yang cukup juga situasi medan dan route yang akan anda lalui, kemudian anda siap untuk melakukan perjalanan.

Bahaya tentu saja akan selalu ada baik itu dari anda dan tim anda yang menyangkut kesiapan perlengkapan dan peralatan tim maupun pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki tim dalam melakukan perjalanan. Bahaya dari luar akan selalu ada, tergantung kesiapan tim dan kesolidan tim dalam menghadapinya.

Mental akan sangat berpengaruh dalam perjalanan anda. Sejauh mana kemampuan leader dalam memimpin tim dan respect tim terhadap leader dengan segala keputusannya. Bagaimana sesama anggota tim saling mendukung dan membantu satu sama lain.

Demi keselamatan pengunjung dan kelestarian alam, pendaki hendaknya mematuhi kewajiban sebagai berikut :

  1. Sebelum melakukan pendakian, calon pendaki diwajibkan melapor ke pos jaga terkahir, untuk dilihat apakah persyaratan pendakian telah dipenuhi atau belum
  2. Pendaki juga diwajibkan melapor ke perangkat desa (terakhir) di rute perjalanan
  3. Setelah pendakian, pendaki diwajibkan lapor ke pemberi ijin, untuk memastikan ada tidaknya pendaki yang telambat turun
  4. Pendaki diwajibkan memperhatikan kebiasaan dan adat istiadat setempat (pakaian, hal-hal yang ditabukan dan lain-lain)
  5. Bila terjadi musibah agar segera ke pos kehutanan dan atau aparat pemerintah setempat
  6. Yakinkan bahwa bekas api unggun telah benar-benar padam sebelum ditinggalkan
  7. Pendaki agar mempunyai asuransi kecelakaan diri
  8. Larangan

Untuk berhasilnya suatu pendakian, agar diperhatikan larangan-larangan sebagai berikut:

  • Dilarang keras membawa obor sebagai alat penerangan (pada pendakian malam hari), agar tercegah kebakaran.  Sebagai gantinya dapat digunakan senter
  • Dilarang membuang benda yang mengandung api (misalnya puntung rokok) selama pendakian
  • Dilarang mempergunakan kayu untuk keperluan apapun (api unggun, masak, tongkat)
  • Dilarang mengambil tumbuhan dan binatang, telur atau sarang apapun, terutama bila gunung yang didaki termasuk kawasan konservasi (cagar alam, taman nasional)
  • Dilarang membuat kegaduhan (berbicara keras, membunyikan alat musik) yang dapat mengganggu kehidupan satwa dan pendaki lain
  • Dilarang membuang sampah apapun (kertas, plastik, kaleng).  Benda-benda tersebut harus diangkut kembali ke bawah
  • Dilarang mencemari lingkungan, termasuk mencoret-coret batu, kulit/akar/daun pohon
  • Dilarang melakukan tindakan apapun yang dapat mengganggu keaslian alam

Etika Penelusuran Gua

Menelusuri gua dapat dikerjakan untuk olah raga maupun untuk tujuan ilmiah. Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi ETIKA dan KEWAJIBAN kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar akan kewajibannya terhadap sesama penelusur dan masyarakat disekitar lokasi gua-gua. Kemahiran teknik saja tidak cukup untuk menganggap dirinya mampu dan pantas melakukan kegiatan penelusuran gua. Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus memenuhi etika dan kewajiban penelusuran gua.

Etika

  1. Sejak semula harus disadari bahwa seorang penelusur gua dapat merusak gua, karena membawa kuman, jamur, dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya masih murni, tidak tercemar. Penelusuran gua akan merusak gua apabila meninggalkan kotoran berupa sampah, sisa karbit, puntung rokok, sisa makanan, batu baterai mati, kantong plastik, botol/kaleng minuman dan makanan dalam gua. Membuang benda-benda tersebut di atas adalah larangan mutlak juga dilarang corat-coret gua dengan benda apapun juga.Karenanya ikutilah MOTTO NSS dari USA :
    “jangan mengambil sesuatu……… kecuali mengambil potret”
    “jangan meninggalkan sesuatu ….. kecuali meninggalkan jejak”
    “jangan membunuh sesuatu ……… kecuali membunuh waktu”
  2. Gua adalah bentukan alam yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun. Setiap usaha merusak gua mendatangkan kerugian yang tidak dapat di tebus. Karenanya jangan merusak gua, mengambil atau memindahkan sesuatu di dalam gua tanpa tujuan jelas yang dapat dipertanggungjawabkan.
    Untuk tujuan ilmiah sekalipun harus diusahakan pengambilan specimen secara cermat, terbatas dan selektif. Itupun setelah diyakini, bahwa belum tersedia specimen yang sama di dalam laporan atau museum dan belum diambil specimen yang sama oleh ahli speleologi lainnya.
    Menelusuri dan meneliti gua harus dilakukan dengan penuh respek, tanpa mengganggu, mengusir, merusak/mengambil isi gua, baik yang berupa benda mati atau yang hidup.
  3. Menelusuri gua harus disertai kendaraan, bahwa kesanggupan dan ketrampilan pribadi tidak usah dipamerkan. Sebaliknya ketidakmampuan tidak perlu ditutupi oleh karena rasa malu. Bertindaklah sewajar-wajarnya, tanpa membohongi diri sendiri dan orang lain. Apabila tidak sanggup, tetapi dipaksakan maka hal ini akan membawa akibat buruk yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Adalah melanggar etika untuk memandang rendah ketrampilan serta kesanggupan sesama penelusur. Juga melanggar etika bila memaksakan diri dilakukan tindakan di luar kemampuan teknis juga apabila belum siap mental dan kesehatan tidak memadai.
  4. Tunjukkan respek terhadap penelusur gua dengan cara :
    – Tidak menggunakan bahan-bahan atau peralatan yang disediakan oleh rombongan lain tanpa persetujuan mereka.
    Jangan membahayakan para penelusur lain, misalnya menimpukkan batu ketika ada penelusur lain di dalam gua, mengambil atau memutuskan tali yang sedang terpasang, memindahkan tangga atau alat-alat lain yang dipasang pemakai, penelusur lain.
    – Menghasut penduduk di sekitar gua untuk melarang atau menghalangi rombongan lain memasuki gua, karena tidak ada satupun gua di bumi ini milik perseorangan kecuali apabila gua itu telah dibeli oleh yang bersangkutan. Untuk tujuan ilmiahpun, setiap gua harus dapt diteliti setelah menempuh prosedur yang berlaku.
    – Jangan gegabah menganggap anda penemu sesuatu, kalau anda yakin betul, bahwa tidak ada orang lain yang menemukannya pula.
    – Jangan melaporkan hal-hal yang tidak benar demi sensasi atau ambisi pribadi, karena hal ini berarti membohongi diri sendiri dan dunia ilmu speleologi khususnya.
    – Setiap usaha penelusuran gua ialah usaha bersama. Bukan usaha yang dicapai sendiri. Karena setiap publikasi dari hasil penelusuran gua tidak boleh menonjolkan prestasi pribadi tanpa mengingat jasa sesama penelusur.
    – Jangan menjelek-jelekkan nama sesama penelusur dalam suatu publikasi walaupun si penelusur itu mungkin berbuat hal-hal negatif secara sadar atau tidak sadar. Setiap publikasi negatif tentang sesama penelusur akan memberikan gambaran negatif terhadap semua penelusur gua.
    – Jangan melakukan penelitian yang sama apabila ada rombongan lain yang sedang mengerjakan dan belum mempublikasikannya.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K.  2001.  Etika.  Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.

Sandra, Edhi dkk.  1998.  Pedoman Umum Wisata Remaja di Alam Bebas.  Fakultas Kehutanan IPB.

——-.  2001.  Etika Penelusuran Gua.  Yogya.

Denpasar (Bali Post). 2001. Lestarikan Alam, perlu Ada Etika Lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: