h1

Pengamatan burung (Bird watching) hobby baru yang menantang

4 Juni 2010

Mereka Lebih Indah Di Alam

Mereka yang sering memperhatikan burung biasanya gemar, sketsa indah atau mengambil foto, Kenyataan sejarah menunjukan bahwa sudah sejak lama orang menuangkan keindahan burung antara lain dalam bentuk sastra, lukisan, seni pahat dan tarian.

Dewasa ini, banyak orang memelihara burung dengan dalih untuk menikmati keindahannya. Parahnya lagi banyak kalangan yang menyatakan diri sebagai pecinta burung justru malakukan eksploitasi dan menjadi ancaman terhadap hidupan liar burung. Padahal, burung lebih bernilai seni bila berada bebas di alam, suaranya lebih merdu karena timbul dari kegirangan alami dan warnanya lebih menawan karena cahaya matahari membiaskan efek warna yang lebih indah pada burung yang ada di alam ketimbang yang ada di dalam sangkar. Membiarkan burung bebas di alam juga lebih bernilai moral dan merupakan wujud panghargaan antara sesama mahluk hidup. Sayangnya, birdwatching belum mendapatkan perhatian dan sambutan dalam masyarakat kita.

Bukan Sekedar Ngintip

Mengamati burung dengan peralatan utamanya berupa teropong, telah lama dikenal masyarakat Eropa dan Amerika, namun sekarang negara-negara di Asia seperti Jepang, Singapura dan Taiwan juga telah memiliki banyak pengamat burung, Bahkan di Indonesiapun para Bird watcher tumbuh menjamur menjadi hobby baru.

Pada awalnya kegiatan birdwatching didorong oleh rasa senang yang kemudian berkembang menjadi suatu gerakan kepedulian dan tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Contohnya Royal Society for Preservation of Bird  RSPB), sebuah klub pengamat burung di Inggris yang memiliki anggota lebih dari satu juta orang dan Wild Bird Society of Japan (WBSJ) yang beranggotakan lebih dari 700.000 orang. Klub-klub tersebut memberikan kontribusi yang besar bagi pelestarian alam di negerinya masing-masing, bahkan telah banyak membantu kegiatan pelestarian di luar negara mereka.

Kegiatan pengamatan burung erat kaitannya dengan olah raga. Seorang pengamat burung cenderung untuk bergerak mencari objek yang kerap kali dilakukan dengan berjalan kaki. Sambil mengamati burung, tanpa terasa kita bisa berjalan sejauh 4-5 km, cukup untuk mengeluarkan keringat dan melatih otot kaki. Waktu terbaik mengamati burung adalah pada saat burung aktif yaitu pukul 06.00-10.00, saat di mana udara masih terasa segar. Pengamatan juga biasa dilakukan pada sore hari manakala sinar matahari sudah tidak begitu terik menyengat.

Adakalanya pengamat burung menembus kegiatan olah raga yang dianggap menantang dan cukup berbahaya, antara lain repling (turun tebing). Bila objek yang diamati (seperti burung alap-alap kawah) tinggal atau hidup di tebing cadas atau karang, maka mau tidak mau keahlian turun tebing sangat diperlukan. Mendaki gunung dan menjelajah rimba yang dihuni binatang buas menjadi daerah petualangan yang sering dinikmati pengamat burung. Tapi sesungguhnya pengamat burung tidak harus seperti petualang dan memiliki keahlian berpetualang, karena burung tidak hanya hidup di hutan atau gunung yang jauh dari hunian manusia, tapi juga di lingkungan sekitar kita.

Padahal, di balik sekedar hobi, manfaat yang bias diraih dari kegiatan ini sangatlah besar, antara lain bias dilihat dari aspek olah raga, seni, ilmiah, konservasi dan ekowisata.

Segi ilmiah adalah bagian yang paling menonjol dari birdwatching. Pengamat burung sangat berperan dalam menunjang ilmu pengetahuan. Walaupun kegiatannya secara sepintas dapat dikatakan sederhana, yaitu hanya melihat dan mencatat apa yang mereka temukan, namun seringkali catatan tersebut menghasilkan data ilmiah yang sangat bermanfaat, seperti daftar jenis burung yang ditemukan di suatu daerah yang sangat penting sebagai bagian dari inventarisasi keanekaragaman hayati.

Manfaat ilmiah lain adalah kita bias mengetahui keragaman jenis burung-burung yang ada di tepi pantai yang berbeda dengan yang hidup di hutan dataran rendah dan berlainan pula dengan yang ada di pegunungan. Terkadang jenis baru berhasil ditemukan oleh pengamat burung amatir. Seorang ahli burung, setinggi apapun tingkat pengetahuan burungnya, tidak pernah meninggalkan kegiatan pengamatan burung, karena salah satu dasar dari semua ilmu burung adalah pengamatan burung di alam. Informasi ilmiah yang dihasilkan pengamat burung tidak terbatas pada aspek inventarisasi saja. Catatan sederhana yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, bisa berkembang ke berbagai aspek kehidupan burung seperti makanan, perkembangbiakan dan tingkah lakunya. Catatan ini bila digabungkan akan melahirkan informasi yang sangat berguna untuk pelestarian burung. Bahkan kebiasaan menuangkan informasi secara rinci dapat menghasilkan  pengetahuan tentang timbal balik antara burung dengan alam (ekologi burung). Misalnya, pengetahuan terhadap sejenis burung sebagai pemakan serangga yang bersifat hama dapat dimanfaatkan sebagai senjata alamiah untuk penanggulangan hama tersebut. Kita masih ingat kasus penyerbuan belalang di Lampung tempo hari, mungkin kejadiannya tidak akan separah yang dialami seandainya di daerah itu masih cukup banyak burung pemakan belalang tersebut

Pengembangan kandungan ilmiah dalam mengamati burung berlanjut pada pelestarian alam (konservasi). Perlu diketahui bahwa Indonesia adalah negeri yang paling banyak memiliki burung yang terancam punah (lebih dari 300 jenis, nomor satu di dunia). Bagaimana mungkin penyelamatan burung dari ancaman kepunahan akan berhasil bila pengetahuan kehidupan burung yang akan diselamatkan tidak ada?.

Dapat dibayangkan, kepunahan jenis burung yang cukup memalukan bagi bangsa yang diberkahi alam yang kaya ini, akan semakin parah bila tidak ada atau sedikit sekali orang yang peduli terhadap kelestarian burung. Kita telah kehilangan Trulek Jawa, yaitu sejenis burung rawa asli Pulau Jawa yang telah dinyatakan punah, tentunya kita tidak ingin daftar kepunahan itu bertambah panjang.

Keberadaan burung telah dijadikan sebagai indikator keanekaragaman hayati. Hal ini sangat berguna untuk menyusun strategi pelestarian kanekaragaman hayati sehingga berlanjutnya kerusakan bisa dicegah. Di sinilah peran seorang pengamat burung semakin berarti. Dengan catatan sederhananya mereka bisa menyumbangkan pengetahuan yang berharga untuk pelestarian alam. Sebenarnya peran sebagai pelestari alam sudah dilakukan oleh seseorang ketika dia memegang teropong untuk menjadi seorang pengamat burung. Seorang pengamat burung dengan sendirinya akan memiliki kaidah-kaidah konservasi melalui keinginannya untuk membiarkan burung hidup bebas di alam, tidak semena-mena menangkapnya dan tidak merusak habitatnya. Sikap ini telah menunjukkan kesadaran dan penghargaan terhadap mahluk hidup yang sama-sama menempati planet bumi ini. Dengan demikian seorang pengamat burung dapat dikatakan telah melaksanakan sebagian tanggung jawabnya terhadap alam.

Ekowisata atau ecotourism dalam pengertian singkat sedikitnya memiliki tiga kategori kegiatan yaitu perjalanan (tur) di alam terbuka, tur yang dikaitkan dengan keserasian ekologi dan yang dapat berbentuk sebuah ekspedisi (berhubungan dengan eksplorasi  ilmiah dan bernuansa petualangan). Kegiatan pengamatan burung pada dasarnya merupakan kegiatan ekowisata yang mencakup tiga kategori di atas. Seorang pengamat burung melakukan kegiatannya di alam terbuka. Mereka juga menikmati dan mempelajari ekologi (burung) dan sering kali merancang kegiatannya dalam bentuk ekspedisi mengunjungi daerah “baru” di pedalaman atau daerah yang jarang terjamah manusia.

Selain terlibat langsung sebagai pelaku tour (turis) di dalam ekowisata, pengamat burung juga berperan dalam mendukung ekowisata, misalnya sebagai pemandu atau yang mempromosikan keindahan alam melalui burung. Kegiatan ekowisata yang menyajikan burung sebagai objek utama belum dikembangkan secara optimal, padahal berpeluang cukup besar untuk menarik wisatawan. Paket ekowisata dengan penekanan pada pengamatan burung yang dikelola oleh EastJava Adventure telah berkembang menjadi paket yang semakin banyak diminati, dan Indonesia adalah salah satu daerah tujuan mereka. Papua Bird Club yang berkedudukan di manokwari telah menangkap peluang ini dan cukup berhasil. Begitupun oleh kami yang bebasis di jawa timur

2 komentar

  1. Dalam satu tahun, adakah waktu / bulan pengamatan yang paling baik untuk bird watching? Misalkan pada saat populasi sedang tinggi at saat ada burung migrasi?


    • Maaf baru balas ni

      Tergantung burung apa yang anda lihat, untuk burung pemangsa atau burung air, memang paling bagus saat musim migrasi. namun untuk burung yang residen atau menetap tidak ada batasnya, kapanpun bisa kita amati. selain itu ada jenis-jenis tertentu juga yang asik untuk diamati seperti jenis parrot (nuri dan kakatua) pada saat musim kawin.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: