h1

Gelatik Jawa (Padda Oryzivora) Di Kota Malang

14 Juni 2010

Kota Malang, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, dan dikenal dengan julukan kota pelajar.

Berdasarkan perkembanganya Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

Perkembangan yang pesat ini mengakibatkan satwa jenis burung pun tergusur dari Kota Malang, sehingga bangungan hunian atau bisnis, tidak lagi nyaman bagi habitat satwa seperti burung.  Jika pada tahun 1996 setidaknya ada 35 jenis burung di Kota Malang, maka dari survei sebuah organisa perlindungan satwa yang berkantor pusat di Malang pada tahun 2009 jumlahnya menyusut tinggal 16 jenis burung saja yang kini bertahan. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian  universitas Negeri Malang tahun 2009 tercatat ada 15 spesies burung berasal dari 8 familia.

Dalam pekembangan kemajuan kota , maka suatu kota dikatakan hijau dapat dilihat dari keberadaan burung-burung yang ada di kota tersebut. Hal ini karena burung merupakan salah satu indikator keanekaragaman hayati. Keberadaannya burung di alam sangat penting karena memiliki keterlibatan dalam fungsi ekologis. Kelestarian hidup burung sangat tergantung terhadap keberadaan dan kondisi habitatnya. Saat ini hanya sekitar 4 lokasi yang menjadi habitat burung di kota malang dan sangat mudah untuk mengamati jenis-jenis burung penghuni kota yang tersisa. Yaitu Taman Tugu, Taman Alun-alun Merdeka, halaman Kantor bupati Malang dan Taman Ijen. Ke empat lokasi itu kelimpahan jenisnyapun beragaman.

GELATIK JAWA  : Yang Tersisa

Gelatik Jawa (Padda Oryzivora, Rice Finch, Java Sparrow) merupakan salah satu jenis burung endemik di Jawa dan Bali. Burung yang mempunyai paruh merah, kepala hitam dengan bercak putih di pipi ini saat ini menjadi burung favorit untuk dipelihara. Sehingga tampa disadari keberadaan di alampun semakin kian menurun, Walaupun endemic jawa namun keberadaan burung ini bukan hanya di Indonesia saja tetapi burung ini juga ditemukan di alam bebas seperti di Hawaii, pulau Christmas dan tentu saja Indonesia sebagai Negara asal.

Gelatik Jawa (Padda oryzivora; Rice Finch; Java Sparrow) burung yang seukuran burung Gereja ini memiliki nama ilmiahnya dari kata ” Padda”  yang berasal dari bahasa Cina yang berarti butiran padi sedangkan “Oryzivora” berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari dua kata, yaitu oryza dan vorus. Oryza adalah genus padi domestik sedangkan vorus berarti memakan.  Jadi arti secara umum dari Padda oryzivora adalah burung pemakan butiran padi. Sesuai dengan namanya, makanan utama bagi Gelatik Jawa adalah padi, sehingga berpotensi menjadi hama bagi para petani. Namun, ketika petani tidak menanam padi dan mengganti dengan tanaman lainnya seperti palawija, burung ini mampu mengubah menu makan mereka menjadi pemakan serangga, buah-buahan, dan biji-bijian (jagung dan rumput).

Ironisnya saat ini untuk menemukan satwa endemik jawa ini di Malang  butuh sebuah  keberuntungan,  hal ini disamping butuh kejelian mata melihat ke cabang-cabang canopy pohon,  lalu-lintas kendaraan yang padat juga menjadi kendala di sekitaran taman-taman yang ada di kota malang, dan ini  sering kali mengangu kita para pengamat burung.

Distribusi Gelatik di Jawa dan Bali

Populasi Gelatik Jawa di Jawa Barat dapat dijumpai di kota Bogor, Jakarta, Depok, Sukabumi, Cianjur, Cibodas, Bandung, Banjar, dan Cirebon. Di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, burung ini terdapat di Purworejo, Kutoarjo, Brebes, Magelang, Kodya Yogyakarta, Prambanan, Gunung Kidul, Semarang, Solo, Jepara, dan Wonogiri. Di Bali, kita dapat menjumpainya di Kuta, Denpasar, Ubud, Tanah Lot, Ulu Watu, Buleleng, dan Nusa Dua. Di Jawa Timur, burung endemik ini dapat ditemukan di, Kediri, Gresik, Surabaya, dan T.N. Baluran, Malang yaitu di 4 lokasi taman kota malang.  Salah satu breeding site alias tempat bersarang bagi Gelatik Jawa yang relatif aman adalah Balai Kota Malang dan Kantor Bupati malang yang lokasinya tidak jauh dari Alun-alun malang.

Berdasarkan pengamatan Eastjava Ecotourism pada di bulan Juni 2010 ditemukan 3 ekor Gelatik jawa junvile, dengan cirri-ciri, warna bulu coklat, paruh mulai kemerahan di ujungnya pangkalnya coklat , kaki merah. Penemuan ke 3 ekor gelatik Jawa yang muda ini merupakan suatu hal yang sangat mengejutkan, di tengah meningkatnya pembangunan Mall di kota malang, terjadi juga penambahan individu gelatik Jawa di Kota malang. Keberadaan burung ini benar-benar mengembirakan karena Gelatik Jawa muda ini menggunakan pohon Flamboyan sebagai tempat beristirahat.

Karena keterancamnya,  spesies ini dimasukkan dalam International Union for Conservation of nature and Natural Resources (IUCN) Redlist dengan status Vulnerable atau rentan. Ini berarti terjadi penurunan populasi dan mempunyai peluang untuk punah. Penyebab kepunahan burung ini diantaranya adalah perburuan, meningkatnya penggunaan lahan untuk pemukiman.

Order: Passeriformes
Family: Estrildidae
Species: Lonchura oryzivora
Synonymous: Padda oryzivora

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: